Sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap bahwa kehidupan semua dokter itu enak, hidup mapan, sejahtera, mewah, dan gambaran kehidupan lain yang serba tercukupi. Padahal sebaliknya, justru hanya sebagian kecil dokter saja yang mempunyai kehidupan seperti itu terutama sebagian besar dokter spesialis. Sebagian besar dokter terutama sebagian besar dokter umum bisa dibilang mempunyai kehidupan yang serba terbatas, harus pandai mengatur pengeluaran untuk keperluan yang memang penting dikarenakan penghasilan yang bisa dibilang kecil.
Jadi dokter mungkin menjadi sebagian besar cita-cita anak kecil, dimana mereka masih polos belum memikirkan mengenai kebutuhan hidup. Mereka yang bercita-cita menjadi dokter berpikiran bisa menolong banyak orang yang sedang sakit. Memang benar dan tidak salah apa yang mereka pikirkan. Namun, ketika seseorang telah menjadi dewasa, setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi diri sendiri dan orang lain yang menjadi tanggung jawabnya. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi tersebut sesorang harus mempunyai penghasilan yang cukup.
Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa profesi dokter mempunyai penghasilan yang besar. Namun, pada kenyataannya sebagian besar dokter terutama sebagian besar dokter umum bisa dibilang mempunyai penghasilan yang kecil. Kenapa saya katakan kecil? Mungkin masyarakat tidak tahu bahwa masih banyak klinik atau rumah sakit yang memberikan upah atau jasa medis kepada dokter yang bekerja di tempat mereka dengan upah atau jasa medis yang sangat kecil. Hal ini bukan berarti dokter mata duitan tetapi lebih kepada penghargaan yang layak atas jasa medis yang harus diterima dokter.
Ada banyak klinik atau rumah sakit yang memberikan upah atau jasa medis kepada dokter pegawai mereka sebesar Rp2000/pasien (dua ribu rupiah per pasien). Padahal, bisa jadi pasien harus membayar ke klinik atau rumah sakit tersebut lebih dari Rp50.000/pasien (lima puluh ribu rupiah per pasien) akan tetapi siapa sangka ternyata upah atau jasa medis yang menjadi bagian dokter hanya Rp2.000/pasien (dua ribu rupiah per pasien), walaupun mungkin di kwitansi pasien tertulis jasa medis dokter Rp50.000/pasien (lima puluh ribu rupiah per pasien). Bisa dibilang upah atau jasa medis yang menjadi bagian dokter sebesar Rp2000/pasien (dua ribu rupiah per pasien) sama atau mungkin malah lebih kecil daripada tarif sekali kencing di toilet umum.
Namun, ada juga klinik atau rumah sakit walapun jumlahnya tidak begitu banyak, memberikan jasa medis kepada dokter mereka dengan jasa medis yang sedikit lebih tinggi, Rp5.000-Rp10.000/pasien (lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah per pasien). Saya tidak menutup mata juga ada klinik atau rumah sakit yang memberikan jasa medis kepada dokter mereka dengan upah atau jasa medis yang layak, akan tetapi jumlah klinik atau rumah sakit yang seperti ini jumlahnya sangat-sangat sedikit.
Walaupun seorang dokter hanya mendapatkan upah atau jasa medis yang sangat kecil, seorang dokter akan tetap berusaha untuk melayani pasien dengan sebaik-baiknya. Namun, walaupun seorang dokter sudah bekerja dengan sebaik-baiknya, begitu ada hal dimana pasien atau keluarganya hanya merasa tidak diuntungkan di klinik atau rumah sakit tempat pasien dirawat. Walaupun penyebabnya bukan karena dokternya, karena penyebabnya memang kondisi klinik atau rumah sakit atau SOP (standar operasional prosedur) semisal, karena memang kondisi kamar rawat inap yang penuh atau karena alat kesehatan yang dimiliki klinik atau rumah sakit tidak lengkap. Demi pertimbangan kebaikan pasien agar segera mendapatkan penganan yang cepat dan tepat sehingga pasien oleh dokter diarahkan untuk segera berobat ke klinik atau rumah sakit lain. Bisa jadi akan muncul headline di beberapa media massa dengan judul “Dokter menolak pasien miskin”. Judul yang sangat tidak sesuai fakta dan sangat merendahkan dan merenggut kehormatan profesi dokter.
Sungguh malang sekali nasib dokter, bekerja sudah dengan sebaik-baiknya dan setiap keputusan dengan pertimbangan hanya untuk kebaikan pasien, walaupun dokter hanya mendapatkan upah atau jasa medis yang kecil, tetapi begitu ada hal dimana pasien atau keluarganyan hanya merasa tidak diuntungkan, niscaya akan menjadi berita bahkan akan menjadi headline di media massa dengan judul yang sangat merendahkan, melecehkan, menghinakan, dan merenggut kehormatan profesi dokter. Walaupun memang demikian realita kehidupan profesi dokter, seorang dokter akan mendapatkan kepuasan ketika bisa melihat pasien yang berobat kepadanya sembuh sehingga pasien tersebut bisa berbahagia menjalani hidup bersama keluarganya.

0 comments:
Post a Comment