Fakta mengenai Diabetes Melitus (3)
Tabel Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus
Sumber: Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2011. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia
Pada artikel Fakta Tersembunyi mengenai Diabetes Melitus (1) telah dibahas mengenai epidemiologi (persebaran penyakit) diabetes melitus. Fakta Tersembunyi mengenai Diabetes Melitus (2) juga telah dibahas mengenai definisi dan faktor risiko (hal-hal yang berperan) untuk terjadinya penyakit diabetes melitus. Pada artikel berikut ini Fakta Tersembunyi mengenai Diabetes Melitus (3) akan membahas cara mendiagnosis, screening (pemeriksaan penyaring), dan klasifikasi (tipe/macam) dari diabetes melitus. Yuk kita simak...
Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis diabetes melitus atau memastikan bahwa penderita tersebut memang menderita diabetes melitus maka ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar konsentrasi glukosa darah. Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena bukan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer. Pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer dapat dilakukan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan. Untuk memastikan diagnosis diabetes melitus, pemeriksaan glukosa darah seyogyanya dilakukan di laboratorium klinik yang terpercaya (yang melakukan program pemantauan kendali mutu secara teratur).1,4
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) membagi alur diagnosis diabetes melitus menjadi dua bagian besar berdasarkan ada tidaknya keluhan klasik diabetes melitus. Keluhan klasik diabetes melitus terdiri dari poliuria, polidipsia, polifagia dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas, sedangkan keluhan lain diabetes melitus dapat berupa lemas, kesemutan, luka yang sulit sembuh, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria dan pruritus vulvae pada wanita. Apabila ditemukan keluhan klasik diabetes melitus, pemeriksaan glukosa darah abnormal satu kali saja sudah cukup untuk menegakkan diagnosis, namun apabila tidak ditemukan keluhan klasik diabetes melitus, maka diperlukan dua kali pemeriksaan glukosa darah abnormal.1,4
Diagnosis diabetes melitus juga dapat ditegakkan melalui cara:1,3,4,5
- Jika keluhan klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >200 mg/dL sudah cukup untuk menegakkan diagnosis diabetes melitus.
- Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL dengan adanya keluhan klasik.
- Tes toleransi glukosa oral (TTGO). Meskipun TTGO lebih sensitif dan spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa, namun pemeriksaan ini memiliki keterbatasan tersendiri. TTGO sulit untuk dilakukan berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang dilakukan karena membutuhkan persiapan khusus.
Tabel kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis diabetes melitus
Sumber: Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2011. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia
Pemeriksaan penyaring dilakukan pada mereka yang mempunyai risiko diabetes melitus, namun tidak menunjukkan adanya gejala diabetes melitus. Pemeriksaan penyaring berguna untuk menjaring pasien diabetes melitus, toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu (GDPT), sehingga dapat ditentukan langkah yang tepat untuk mereka. Pasien dengan TGT dan GDPT merupakan tahapan sementara menuju diabetes melitus. Setelah 5-10 tahun kemudian 1/3 kelompok TGT akan berkembang menjadi diabetes melitus, 1/3 tetap TGT dan 1/3 lainnya kembali normal. Adanya TGT sering berkaitan dengan resistensi insulin. Pada kelompok TGT ini risiko terjadinya aterosklerosis lebih tinggi dibandingkan kelompok normal. TGT sering berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, hipertensi dan dislipidemia. Peran aktif para pengelola kesehatan sangat diperlukan agar deteksi diabetes melitus dapat ditegakkan sedini mungkin dan pencegahan primer dan sekunder dapat segera diterapkan.1,4
Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan konsentrasi glukosa darah sewaktu atau konsentrasi glukosa darah puasa, kemudian dapat diikuti dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) standar.4
Klasifikasi Diabetes Melitus
Klasifikasi etiologis diabetes melitus menurut American Diabetes Association (ADA) 2010, dibagi dalam 4 jenis yaitu:3,4,5
Klasifikasi Diabetes Melitus
Sumber: Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2011. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia
Sumber: Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2011. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia
a. Diabetes Melitus Tipe 1
diabetes melitus tipe 1 terjadi pada usia muda, <40 tahun. diabetes melitus tipe 1 terjadi karena adanya destruksi sel beta pankreas karena proses imunologik ataupun idiopatik. Pada diabetes melitus tipe ini terdapat sedikit atau tidak sama sekali sekresi insulin, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut. Manifestasi klinik pertama dari penyakit ini adalah ketoasidosis diabetik.3,4,5
b. Diabetes Melitus Tipe 2
Penderita diabetes melitus tipe 2 bervariasi meliputi, predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif atau dominan defek sekresi insulin disertai resistensi insulin. Pada penderita terjadi hiperinsulinemia tetapi insulin tidak bisa membawa glukosa masuk ke dalam jaringan karena terjadi resistensi insulin yang merupakan turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Oleh karena terjadinya resistensi insulin (reseptor insulin sudah tidak aktif karena dianggap kadarnya masih tinggi dalam darah) akan mengakibatkan defisiensi relatif insulin. Hal tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya sekresi insulin pada adanya glukosa bersama bahan sekresi insulin lain sehingga sel beta pankreas akan mengalami desensitisasi terhadap adanya glukosa.3,4,5
Onset diabetes melitus tipe ini terjadi perlahan-lahan karena itu gejalanya asimtomatik. Adanya resistensi yang terjadi perlahan-lahan akan mengakibatkan sensitivitas reseptor akan glukosa berkurang. diabetes melitus tipe ini sering terdiagnosis setelah terjadi komplikasi.3
c. Diabetes Melitus Tipe Lain
Diabetes melitus tipe ini terjadi karena etiologi lain, misalnya pada defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat/zat kimia, infeksi virus, penyakit autoimun, dan kelainan genetik lain.3,4,5
d. Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes Melitus Gestasional merupakan suatu gangguan toleransi karbohidrat (TGT, GDPT, diabetes melitus) yang terjadi atau diketahui pertama kali pada masa kehamilan sedang berlangsung, biasanya pada trimester kedua dan ketiga. diabetes melitus gestasional berhubungan dengan meningkatnya komplikasi perinatal. Penderita diabetes melitus gestasional memiliki risiko lebih besar untuk menderita diabetes melitus yang menetap dalam jangka waktu 5-10 tahun setelah melahirkan.3,4,5
Mengenai diagnosis dan screening/pemeriksaan penyaring diabetes melitus bisa juga dibaca di sini. Klasifikasi diabetes melitus juga bisa dibaca di sini.
Mengenai diagnosis dan screening/pemeriksaan penyaring diabetes melitus bisa juga dibaca di sini. Klasifikasi diabetes melitus juga bisa dibaca di sini.
Referensi:
- Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2011. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2011.
- Suyono, Slamet. Diabetes Melitus di Indonesia. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Ndraha, Suzanna. 2014. Diabetes Melitus Tipe 2 Dan Tatalaksana Terkini. Medicinus Vol. 27, No. 2, Agustus 2014: 9-16.
- Purnamasari, Dyah. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta. hlm 423-434.
- Soewondo, Pradana. Ketoasidosis Diabetik. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Soewondo, Pradana. Koma Hiperosmolar Hiperglikemik Non Ketotik. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Soemadji, Djoko Wahono. Hipoglikemia Iatrogenik. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
- Waspadji, Sarwono. Komplikasi Kronik Diabetes: Mekanisme Terjadinya, Diagnosis, dan Strategi Pengelolaan. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
0 comments:
Post a Comment