Cara Mudah Membuat Foto 3x4 dengan Adobe Photoshop CS5


Memang saat ini sudah semakin mudah menemukan studio foto di sekitar tempat tinggal kita. Namun, biaya yang dikeluarkan untuk membuat goto 3x4 semakin lama juga tentunya semakin mahal.
Pengalaman saya, saat ingin membuat foto 3x4 di sebuat studio foto di Surabaya, harganya mencapai Rp. 28.000,00. Meskipun diberi soft file setelahnya dalam bentuk CD, namun file yang diberikan adalah file sebelum foto yang dicetak tersebut diedit, sehingga berbeda dengan hasil cetak yang diberikan oleh studio foto tersebut. Ketika saya bertanya lagi pada pegawainya, katanya, jika ingin hasil foto bagus, maka harus mencetak lagi disana dengan biaya Rp. 20.000,00.
Dengan pengalaman demikian, terbersit keinginan dalam diri saya untuk dapat membuat foto 3x4 sendiri. Setelah membaca beberapa artikel, kemudian saya mencobanya dan menemukan langkah termudah dan tercepat untuk membuat foto 3x4 dengan menggunakan Adobe Photoshop CS5. Berikut tahapannya, disertai dengan video tutorial untuk mempermudah kalian dalam mempraktikkannya di rumah:


1. Buka aplikasi Adobe Photoshop CS5

2. File --> New -- Ok

3. File --> Open --> Buka file foto yang akan diedit

4. Pilih Quick Selection Tool

5. Klik memutar pada bagian background foto yang akan diganti warna

6. Klik kanan --> Fill --> Use à Color (pilih sesuai kebutuhan) --> Ok

7. Pilih Crop Tool --> Atur Width (3cm) Height (4cm)

8. Tarik garis hingga membentuk persegi panjang pada foto

9. Enter

10. Save File

Untuk lebih jelasnya, berikut saya sertakan video tutorialnya:











Ketentuan Praktek Dokter, Perawat, dan Apoteker menurut Peraturan Negara (Bagian 1)


ketentuan-praktek-dokter-perawat-dan-apoteker-menurut-peraturan-negara

Sebelum kita membahas mengenai ketentuan praktek dokter, perawat, dan apoteker menurut peraturan negara alangkah baiknya kita memahami terlebih dahulu mengenai negara kita yang tercinta yaitu Negara Indonesia. Negara Indonesia sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 1 ayat 1 ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. Pada perubahan ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 1 ayat 3 tertulis bahwa “Negara Indonesia adalah negara hukum.” Sebagai warga negara yang baik, tentunya kita dalam beraktivitas terutama dalam bekerja harus memahami dan mematuhi hukum yang berlaku di negara kita ini.
Negara kita telah mengatur pembagian tugas dan wewenang antara dokter, perawat, dan apoteker baik melalui Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, ataupun melalui Peraturan Menteri. Tentunya kita sebagai warga negara yang baik harus mengetahui, memahami, dan mematuhi peraturan yang menyangkut dengan profesi kita masing-masing yang telah dibuat oleh negara.
Mengenai praktik kedokteran, telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Dalam Undang-Undang tersebut pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa “Praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan dokter gigi terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan.” Yang dimaksud dengan dokter dan dokter gigi pada pasal 1 ayat 2 dijelaskan “Dokter dan dokter gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter gigi spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.”
Pada pasal 3 tentang Praktik Kedokteran tertuang bahwa pengaturan praktik kedokteran bertujuan untuk: a) memberikan perlindungan kepada pasien, b) mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis yang diberikan oleh dokter dan dokter gigi, dan c) memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter, dan dokter gigi. Pada pasal 29 dinyatakan bahwa setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi.
Wewenang dokter tertuang dalam pasal 35 ayat 1 dan 2 di dalam Undang-Undang tentang Praktik Kedokteran. Pasal 35 dinyakatan bahwa:
(1)    Dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi mempunyai wewenang melakukan praktik kedokteran sesuai dengan pendidikan dan kompetensi yang dimiliki, yang terdiri atas:
a.   mewawancarai pasien;
b.   memeriksa fisik dan mental pasien;
c.   menentukan pemeriksaan penunjang;
d.   menegakkan diagnosis;
e.   menentukan penatalaksanaan dan pengobatan pasien;
f.    melakukan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi;
g.   menulis resep obat dan alat kesehatan;
h.   menerbitkan surat keterangan dokter atau dokter gigi;
i.    menyimpan obat dalam jumlah dan jenis yang diizinkan; dan
j.    meracik dan menyerahkan obat kepada pasien, bagi yang praktik di daerah terpencil yang tidak ada apotek.
(2)    Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kewenangan lainnya diatur dengan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia.

ketentuan-praktek-dokter-perawat-dan-apoteker-menurut-peraturan-negara

Di dalam Undang-Undang tentang Praktik Kedokteran juga telah diatur mengenai surat izin praktik. Pasal 36 dinyatakan bahwa setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat izin praktik. Ketentuan lebih lanjut mengenai surat izin praktik kedokteran diatur dengan Peraturan Menteri sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 38 ayat 3. Peraturan Menteri yang dimaksud adalah Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2052/Menkes/Per/X/2011 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2052/Menkes/Per/X/2011 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran pasal 1 ayat 4 berbunyi “Surat Izin Praktik, selanjutnya disingkat SIP adalah bukti tertulis yang diberikan dinas kesehatan kabupaten/kota kepada dokter dan dokter gigi yang akan menjalankan praktik kedokteran setelah memenuhi persyaratan.” Pasal 3 ayat 1 tertulis “SIP bagi Dokter dan Dokter Gigi dapat berupa SIP dokter, SIP dokter gigi, SIP dokter spesialis, dan SIP dokter gigi spesialis.” Dalam Permenkes tersebut juga diatur mengenai SIP dokter peserta program internsip pada pasal 3 ayat 2 bahwa “SIP bagi dokter peserta program internsip berupa SIP Internsip dengan kewenangan yang sama dengan dokter.”
Permenkes Nomor 2052/Menkes/Per/X/2011 juga telah mengatur mengenai praktik kedokteran yang tidak memerlukan SIP sebagaimana yang terdapat pada pasal 7:
1)  Dokter dan Dokter Gigi yang telah memiliki SIP yang memberikan pelayanan kedokteran atau memberikan konsultasi keahlian dalam hal:
a.      diminta oleh suatu fasilitas pelayanan kesehatan dalam rangka pemenuhan pelayanan kedokteran yang bersifat khusus, yang tidak terus menerus atau tidak berjadwal tetap;
b.      dalam rangka melakukan bakti sosial/kemanusiaan;
c.      dalam rangka tugas kenegaraan;
d.      dalam rangka melakukan penanganan bencana atau pertolongan darurat lainnya;
e.      dalam rangka memberikan pertolongan pelayanan kedokteran kepada keluarga, tetangga, teman, pelayanan kunjungan rumah dan pertolongan masyarakat tidak mampu yang sifatnya insidentil;
tidak memerlukan SIP di tempat tersebut.
2)  Pemberian pelayanan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c dan huruf d harus diberitahukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.
3)  Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan oleh institusi penyelenggaranya.
Masa berlaku SIP juga telah diatur dalam Permenkes tersebut. Pada pasal 13 ayat 1 tertulis “SIP dokter, SIP dokter gigi, SIP dokter spesialis, dan SIP dokter gigi spesialis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) berlaku untuk 5 (lima) tahun.”
Cukup sekian dulu artikel mengenai “Ketentuan Praktek Dokter, Perawat, dan Apoteker menurut Peraturan Negara (Bagian 1)” yang baru membahas mengenai ketentuan praktek dokter. Artikel mengenai ketentuan praktek perawat dan apoteker menurut peraturan negara akan dibahas pada bagian yang selanjutnya.
thinkcrowdfund.ticketleap.com



Pernah diyakini bahwa fungsi otak, akan memuncak selama masa dewasa awal, dan perlahan menurun, sehingga menyebabkan penurunan daya ingat.
Saat ini, penyebab utamanya yakni ketika kita menerapkan gaya hidup modern, kita memainkan peran penting dalam memberikan kontribusi terhadap penurunan kognitif, yakni adanya kandungan racun, bahan kimia, pola makan yang buruk, kurang tidur, stres, dan masih banyak lagi benar-benar dapat menghambat fungsi otak kita.
Hippocampus (bagian dari sistem yang memerintah banyak fungsi tubuh (Limbic System)) yang ada pada otak kita, yang disebut juga pusat memori, mampu menumbuhkan sel-sel baru dan itu sekarang diketahui bahwa hippocampus akan meregenerasi seluruh seumur hidup Kita (bahkan ke 90-an Kita), asalkan kita memberikan alat untuk melakukannya.
“Alat" utama yakni basis gaya hidup, yang memiliki pengaruh sangat besar. Kita tidak perlu mengkonsumsi resep obat mahal atau prosedur medis sama sekali untuk meningkatkan daya ingat pada otak, dan memori kita. Kita hanya harus mencoba trik berikut untuk meningkatkan memori kita:

1. Makan dengan Tepat
Makanan yang kita makan - dan tidak kita makan - memainkan peran penting dalam memori kita. sayuran segar sangat penting, seperti lemak sehat dan menghindari gula dan gandum karbohidrat. Kita dapat menemukan informasi rinci tentang sembilan makanan untuk otak di sini.
Misalnya, kari, seledri, brokoli, kembang kol, dan kenari mengandung antioksidan dan senyawa lainnya yang melindungi kesehatan otak kita dan bahkan dapat merangsang produksi sel-sel otak baru.
Meningkatkan omega-3 asupan lemak hewani dan mengurangi konsumsi lemak jahat. Minyak ikan juga mengandung astaxanthin, yang tidak hanya melindungi omega-3 lemak dari oksidasi tetapi juga tampaknya sangat bermanfaat untuk kesehatan otak.
Minyak kelapa adalah satu lagi lemak sehat bagi fungsi otak. Menurut penelitian oleh Dr Mary Newport, lebih dari dua sendok makan minyak kelapa (sekitar 35 ml atau 7 sendok teh tingkat) akan menyediakan kita dengan setara dengan 20 gram trigliserida rantai menengah (MCT), yang ditkitai baik sebagai pencegahan mengukur terhadap penyakit saraf degeneratif, atau sebagai pengobatan untuk kasus yang sudah mapan.

2. Latihan
Latihan mendorong otak kita untuk bekerja pada kapasitas optimal dengan merangsang sel-sel saraf untuk berkembang biak, memperkuat interkoneksi mereka dan melindungi mereka dari kerusakan.
Selama latihan sel saraf melepaskan protein yang dikenal sebagai faktor neurotropik. Orang tertentu, yang disebut diturunkan dari otak faktor neurotropik (BDNF), memicu berbagai bahan kimia lain yang mempromosikan kesehatan saraf, dan manfaat langsung fungsi kognitif, termasuk belajar.
Sebuah studi 2010 pada primata diterbitkan dalam Neuroscience juga mengungkapkan bahwa olahraga teratur tidak hanya meningkatkan aliran darah ke otak, tetapi juga membantu monyet mempelajari tugas baru dua kali lebih cepat dari monyet yang tidak berolahraga.
Ini sangat bermanfaat, para peneliti percaya bahwa upaya latihan  ini adalah benar. Dalam studi selama satu tahun, individu yang terlibat dalam latihan, pusat memori otak benar-benar tumbuh dan berkembang 1-2 persen per tahun, di mana biasanya pusat otak akan terus menurun dalam ukuran.

3. Stop Multitasking
Digunakan selama beberapa dekade untuk menggambarkan kemampuan pemrosesan paralel dari komputer, multitasking sekarang istilah untuk upaya manusia untuk melakukan secara bersamaan sebanyak mungkin, secepat mungkin. Pada akhirnya, multitasking sebenarnya memperlambat diri kita, membuat Kita rentan terhadap kesalahan serta membuat kita menjadi pelupa.
Penelitian menunjukkan kita benar-benar membutuhkan sekitar delapan detik untuk melakukan sepotong informasi ke memori Kita, jadi jika kita sedang berbicara di telepon dan membawa bahan makanan ketika meletakkan kunci mobil kita, kita tidak mungkin untuk mengingat di mana kita meninggalkan mereka.
Kebalikan dari multitasking yakni kesadaran, yang membantu kita mencapai fokus tanpa gangguan. Siswa yang mengambil kelas kesadaran meningkatkan nilai dalam pemahaman membaca, dan kapasitas memori bekerja, seperti halnya percobaan dalam meminimalisir gangguan dalam berpikir.
Jika kita menemukan diri kita mencoba untuk menyelesaikan lima tugas sekaligus, maka cobalah menahan diri untuk fokus pada satu hal saja. Lakukanlah secara bertahap untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya gangguan dalam memori kita.

4. Dapatkan Tidur Malam yang Baik
Penelitian dari Harvard menunjukkan 33 persen orang lebih mungkin untuk menyimpulkan koneksi diantara hubungan jarak jauh setelah tidur,  tetapi hanya sedikit menyadari bahwa kinerja mereka telah benar-benar membaik. Tidut juga dikenal untuk meningkatkan kenangan kita dan membantu meningkatkan ketrampilan kita. Bahkan, satu malam tidur hanya empat sampai enam jam dapat mempengaruhi kemampuan kita untuk berpikir jernih dihari berikutnya.
Seperti yang mungkin kita duga, ini berlaku untuk bayi juga, dan penelitian menunjukkan bahwa tidur siang dapat memberikan dorongan untuk kekuatan otak bayi '. Secara khusus, bayi yang tidur di antara sesi pembelajaran dan pengujian memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mengenali pola dalam informasi baru, yang merupakan sinyal perubahan penting dalam memori yang memainkan peran penting dalam pengembangan kognitif otak. Ada alasan untuk percaya, ini berlaku untuk orang dewasa, juga, bahkan di antara orang dewasa, tidur siang tengah hari ditemukan untuk secara dramatis meningkatkan dan mengembalikan kekuatan otak. 

5. Memainkan Permainan Otak
Jika kita tidak cukup menantang otak kita dengan hal yang baru, akhirnya kualitasnya akan semakin memburuk. Penelitian plastisitas otak menunjukkan, bagaimanapun, adalah bahwa dengan memberikan otak kita dengan stimulus yang tepat, kita dapat menangkal degenerasi ini.
Salah satu cara untuk menantang otak kita adalah melalui 'permainan otak,' yang dapat Kita bermain secara online melalui situs Web seperti Lumosity.com. Dr Michael Merzenich, profesor emeritus di University of California, telah mempelopori penelitian di plastisitas otak (juga disebut neuroplastisitas) selama lebih dari 30 tahun, juga telah mengembangkan program otak-pelatihan berbasis komputer yang dapat membantu kita mengasah berbagai keterampilan, dari membaca dan memahami, meningkatkan kualitas menghafal dan banyak lagi.
Program ini disebut Brain HQ, dan website memiliki banyak latihan yang berbeda yang dirancang untuk meningkatkan fungsi otak dan juga memungkinkan kita untuk melacak dan memonitor kemajuan Kita dari waktu ke waktu. Meskipun ada banyak situs serupa di Web, Brain HQ adalah salah satu yang tertua dan paling banyak digunakan.
Jika kita memutuskan untuk mencoba permainan otak, idealnya akan lebih bijaksana untuk melakukannya setidaknya 20 menit sehari, tapi tidak lebih dari lima sampai tujuh menit yang akan dihabiskan untuk tugas tertentu. Ketika kita menghabiskan jumlah waktu yang lebih lama pada tugas, manfaat melemah. Menurut Dr. Merzenich, manfaat utama terjadi pada lima atau enam menit dari tugas. Jika Kita tidak menikmati permainan otak, Kita juga dapat mencoba belajar keterampilan baru atau hobi (lihat di bawah).

6. Menguasai Keterampilan Baru
Terlibat dalam "kegiatan terarah dan bermakna" merangsang sistem saraf kita, menghadapi efek penyakit yang berhubungan dengan stres, mengurangi risiko demensia dan meningkatkan kesehatan serta being. Faktor kunci yang diperlukan untuk meningkatkan fungsi otak Kita atau membalikkan penurunan fungsional keseriusan tujuan yang Kita terlibat dalam tugas. Dengan kata lain, tugas harus penting bagi Kita, atau entah bagaimana bermakna atau menarik - itu harus menarik perhatian Kita.
Misalnya, satu studi mengungkapkan bahwa kegiatan kerajinan seperti merajut dan merajut dikaitkan dengan penurunan kemungkinan memiliki kerusakan kognitif ringan. atau mengambil fotografi digital dengan fungsi meningkatkan memori di masa tua. Kuncinya adalah untuk menemukan suatu kegiatan yang secara mental merangsang untuk secara penuh memerlukan perhatian yang penuh dari kita,  dan memberi kita kepuasan besar. Itu harus menjadi aktivitas yang kita harap untuk bisa melakukannya, seperti memainkan alat musik, berkebun, membangun model kapal, kerajinan atau banyak kegiatan lain.

7. Mencoba Mnemonic Devices
Perangkat mnemonic adalah alat memori untuk membantu kita mengingat kata-kata, informasi atau konsep. Mereka membantu kita untuk mengatur informasi ke dalam format yang lebih mudah diingat. Mencoba:
• Akronim (seperti MA untuk "mengambil anggur")
• Visualisasi (seperti membayangkan gigi untuk mengingat janji dokter gigi Kita)
• Rhymes (jika kita perlu mengingat nama, misalnya, berpikir "rambut Shirley adalah keriting”)
• Chunking, yaitu memutus informasi ke "potongan" yang lebih kecil (seperti mengatur nomor ke dalam format nomor telepon)
Dikutip dari : www.articles.mercola.com

Ini Akibat Malas Mencuci Tangan



Mencuci tangan bisa dikatakan merupakan aktivitas yang sederhana dan sepele. Namun, dari hal yang sederhana dan sepele tersebut banyak penyakit mengancam nyawa yang bisa dicegah. Berdasarkan pusat data dan informasi (Pusdatin) kementerian kesehatan RI berikut penyakit-penyakit yang rentan diderita apabila kita malas mencuci tangan:
  • Diare
Penyakit ini biasa kita dengar, bahkan tidak sedikit dari kita yang pernah, atau saat ini sedang menderita penyakit ini. meskiput kelihatannya sepela, namun diare merupakan penyebab kematian kedua yang paling sering pada anak-anak balita. Angka diare di Indonesia tahun 2007 berdasarkan Riskesdas 9,0% dan mengalami penurunan menjadi 3,5% pada tahun 2013. Penurunan angka diare 5,5% merupakan hasil dari enam (6) kali kampanye cuci tangan pakai sabun di Indonesia pada tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, dan 2013.
  • Infeksi Saluran Pernapasan 
Penyakit mengancam nyawa berikutnya yang juga disebabkan karena kita tidak mencuci tang adalah infeksi saluran pernapasan. Infeksi saluran pernapasan merupakan penyebab kematian pertama yang paling sering pada anak-anak balita. Berdasarkan Riskesdas tahun 2007 angka penyakit infeksi saluran pernapasan 25,5% dan mengalami penurunan 0,5% menjadi 25,0% pada tahun 2013. Penurunan tersebut merupakan hasil setelah dilakukan enam (6) kali kampanye cuci tangan pakai sabun.
  • Pneumonia
Pneumonia merupakan penyakit radang paru yang disebabkan oleh bakteri. Orang yang menderita penyakit ini ditandai dengan gejala panas tinggi disertai dengan batuk berdahak. napas cepat (frekuensi nafas >50 kali/menit), sesak, dan gejala lainnya seperti sakit kepala, dan nafsu makan berkurang.
  • Infeksi Cacing
Penyakit infeksi cacing merupakan penyakit yang tidak tidak menyebabkan wabah yang muncuk dengan tiba-tiba ataupun menyebabkan banyak orang. Tetapi merupakan penyakit yang secara perlahan menggerogoti kesehatan manusia, menyebabkan kecacatan tetap, dan penurunan intelegensia pada anak (Sudomo, 2008). Angka penyakit infeksi cacing di Indonesia pada semua umur 40%-60% dan pada anak-anak sekolah dasar (SD) 60%-80%. Menurut penelitian Zaidina Umar tahun 2005 disimpulkan bahwa perilaku cuci tangan sebelum makan memakai air dan sabun terbukti berhubungan signifikan dengan kejadian infeksi cacing.
  • Penyakit kulit
Menurut penelitian Sajida (2012) bahwa seseorang dengan kebersihan tangan dan kuku yang baik kemungkinan mengalami penyakit kulit lebih kecil daripada seseorang dengan kebersihan tangan dan kuku yang buruk, hal ini sesuai dengan penelitian Desi (2005) bahwa penyakit kulit bisa terjadi karena kebersihan tangan dan kuku yang buruk.

Oleh sebab itu, mari kita budayakan mencuci tangan pakai sabun dimulai dari diri dan keluarga kita supaya terhindar dari penyakit-penyakit yang ada di sekitar kita. Namun, apakah cuci tangan yang kita lakukan sudah benar supaya bisa menghilangkan kuman? Berikut tahap-tahap mencuci tangan yang bisa anda terapkan sehari-hari:


Cara mencuci tangan yang baik dan benar menurut WHO:

Cara Mencuci Tagan Yang benar
Gambar Cara Cuci Tangan yang Baik dan Benar menurut WHO
Sumber: http://rsu-permata.com/wp-content/uploads/2013/07/Cara-cuci-tangan-yang-baik-dan-benar-menurut-WHO.jpg
Bisa dibaca juga di sini mengenai perilaku dan penelitian tentang mencuci tangan dengan sabun di dunia.


Daftar Pustaka 
Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014.
Sajida, Agsa. 2012. Hubungan Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan dengan Keluhan Penyakit Kulit di Kelurahan Denai Kecamatan Medan Denai Kota Medan Tahun 2012. Skripsi Penelitian. 2012. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara.
Sudomo, M, Penyakit Parasitik yang Kurang Diperhatikan di Indonesia, Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Etimologi dan Moluska, Jakarta.

Fakta mengenai Diabetes Melitus (4)


aktivitas-saran-sehat-obat-ampuh-tepat-benar-diabetes-melitus-sembuh
Tabel Aktivitas yang Disarankan pada Pasien Diabetes Melitus
Sumber: Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2011. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia
            
            Saya sebagai seorang dokter seringkali menemui pasien yang tidak rutin minum obat anti diabetes melitus, tidak rutin kontrol gula darah, dan juga tidak rutin kontrol ke dokter dengan alasan tidak ada keluhan. Padahal penyakit diabetes melitus ini adalah penyakit yang bisa dikatakan tidak bisa sembuh, akan tetapi merupakan penyakit yang harus selalu terkontrol. Pasien diabetes melitus seringkali berobat jika sudah ada komplikasi akibat gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka waktu lama. Penggunaan obat kimiawi maupun obat herbal pada pasien diabetes melitus seharusnya diperbolehkan jika sudah melewati penelitian yang menyatakan bahwa memang obat kimiawi atau obat herbal tersebut terbukti aman dan bermanfaat bagi pasien. Obat kimiawi anti diabetes melitus yang boleh beredar di pasaran bisa dikatakan sudah lolos semua tahap penelitian sehingga obat kimiawi tersebut terbukti aman dan bermanfaat bagi pasien diabetes melitus. Alangkah baiknya jika obat herbal untuk pasien diabetes melitus yang boleh beredar di pasaran juga harus lolos semua tahap penelitian agar memang terbukti aman dan bermanfaat bagi pasien diabetes melitus karena seringkali saya mendapati pasien diabetes melitus yang hanya mengkonsumsi obat herbal datang ke dokter dengan kondisi gula darah yang tidak terkontrol terlalu tinggi dan sudah dengan komplikasi. Berikut komplikasi diabetes melitus yang tidak terkontrol dalam jangka waktu lama.

Komplikasi
Pada diabetes melitus yang tidak terkendali dapat terjadi komplikasi metabolik akut maupun komplikasi vaskuler kronik, baik mikroangiopati maupun makroangiopati. Sejak ditemukan banyak obat untuk menurunkan glukosa darah, terutama setelah ditemukannya insulin, angka kematian penderita diabetes akibat komplikasi akut bisa menurun drastis. Kelangsungan hidup penderita diabetes lebih panjang dan diabetes dapat dikontrol lebih lama. Di Amerika Serikat, diabetes melitus merupakan penyebab utama dari end-stage renal disease (ESRD), nontraumatic lowering amputation, dan adult blindness.3

Berikut ini merupakan komplikasi dari diabetes melitus:
a.      Komplikasi akut meliputi:
1.    Ketoasidosis diabetik
Ketoasidosis diabetik (KAD) adalah keadaan dekompensasi-kekacauan metabolik yang ditandai oleh trias hiperglikemia, asidosis dan ketosis, terutama disebabkan oleh defisiensi insulin absolut atau relatif. KAD merupakan komplikasi akut diabetes yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah yang tinggi (300­600 mg/dL), disertai dengan adanya tanda dan gejala asidosis dan plasma keton(+) kuat. Osmolaritas plasma meningkat (300­320 mOs/mL) dan terjadi peningkatan anion gap. KAD merupakan salah satu komplikasi akut diabetes melitus yang serius dan membutuhkan pengelolaan gawat darurat. Akibat diuresis osmotik, KAD biasanya mengalami dehidrasi berat dan bahkan dapat sampai menyebabkan syok.1,6
2.    Status Hiperglikemia Hiperosmolar
Status Hiperglikemia Hiperosmolar (SHH) termasuk salah satu komplikasi akut dan emergensi diabetes melitus. SHH ditandai oleh hiperglikemia, hiperosmolar tanpa disertai adanya ketosis. Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi (600­1200 mg/dL), tanpa tanda dan gejala asidosis, osmolaritas plasma sangat meningkat (330­380 mOs/mL), plasma keton (+/­), anion gap normal atau sedikit meningkat. Gejala klinis utama adalah dehidrasi berat, hiperglikemia berut, dan seringkali disertai gangguan neurologis dengan atau tanpa adanya ketosis. Perjalanan klinis SHH biasanya berlangsung dalam jangka waktu tertentu (beberapa hari sampai beberapa minggu), dengan gejala khas meningkatnya rasa haus disertai poliuria, polidipsia, dan penurunan berat badan. Koma hanya ditemukan kurang dari 10% kasus.1,7
Kedua kondisi di atas, KAD dan SHH mempunyai angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Memerlukan perawatan di rumah sakit guna mendapatkan penatalaksanaan yang memadai.1
3.    Hipoglikemia
Hipoglikemia secara harfiah berarti kadar glukosa darah di bawah nilai normal. Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg/dL. Respon regulasi non-pankreas terhadap hipoglikemia dimulai pada kadar glukosa darah 63-65 mg/dL (3,5-3,6 mmol/L). Oleh sebab itu, dalam konteks terapi diabetes, diagnosis hipoglikemia ditegakkan bila kadar glukosa plasma < 63 mg/dL (3,5 mmol/L).1,8
Bila terdapat penurunan kesadaran pada penyandang diabetes harus selalu dipikirkan kemungkinan terjadinya hipoglikemia. Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh penggunaan sulfonilurea dan insulin. Hipoglikemia akibat sulfonilurea dapat berlangsung lama, sehingga harus diawasi sampai seluruh obat diekskresi dan waktu kerja obat telah habis. Terkadang diperlukan waktu yang cukup lama untuk pengawasannya (24­72 jam atau lebih, terutama pada pasien dengan gagal ginjal kronik atau yang mendapatkan terapi dengan OHO kerja panjang). Hipoglikemia pada usia lanjut merupakan suatu hal yang harus dihindari, mengingat dampaknya yang fatal atau terjadinya kemunduran mental bermakna pada pasien. Perbaikan kesadaran pada DM usia lanjut sering lebih lambat dan memerlukan pengawasan yang lebih lama.1
Gejala hipoglikemia terdiri dari gejala adrenergik (berdebar-debar, banyak keringat, gemetar, dan rasa lapar) dan gejala neuro-glikopenik (pusing, gelisah, kesadaran menurun sampai koma).1 Hipoglikemia akut menunjukkan gejala dan Triad Whipple merupakan panduan klasifikasi klinis hipoglikemia yang bermanfaat. Triad tersebut meliputi: a) keluhan yang menunjukkan adarrya kadar glukosa darah plasma yang rendah, b) kadar glukosa darah yang rendah (<3 mmol/L hipoglikemia pada diabetes), dan c) hilangnya secara cepat keluhan-keluhan sesudah kelainan biokimiawi dikorekasi.8

diagnosis-keluhan-komplikasi-obat- diabetes-melitus
Diagram Diagnosis Diabetes Melitus
Sumber: Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2011. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia

b.    Komplikasi kronik meliputi:
1.    Makroangiopati:
            i.        Kerusakan pembuluh darah jantung
Diabetes melitus merusak dinding pembuluh darah yang menyebabkan penumpukan lemak di dinding yang rusak dan menyempitkan pembuluh darah. Akibatnya suplai darah ke otot jantung berkurang dan tekanan darah meningkat, sehingga kematian mendadak bisa terjadi. Prevalensi penyakit jantung koroner dengan penyakit diabetes melitus (baik tipe 1 dan 2) berkisar 1.0% s/d 25.2% pada populasi klinik dan 1.8% s/d 43.4% dalam penelitian pada populasi. Lima puluh persen dari prevalensi penyakit jantung koroner berkisar 0.5% s/d 8.7% dengan diabetes melitus tipe 1 dan berkisar 9.8% s/d 22.3% dengan diabetes melitus tipe 2.3
Kewaspadaan untuk kemungkinan terjadinya penyakit pembuluh darah koroner harus ditingkatkan terutama untuk mereka yang mempunyai risiko tinggi terjadinya kelainan aterosklerosis seperti mereka yang mempunyai riwayat keluarga penyakit pembuluh darah koroner ataupun riwayat keluarga diabetes melitus yang kuat. Jika ada kecurigaan seperti misalnya ketidaknyamanan pada daerah dada, harus segera dilanjutkan dengan pemeriksaan penyaring yang teliti untuk mencari dan menangkap kemungkinan adanya penyakit pembuluh darah koroner, paling sedikit dengan pemeriksaan EKG saat istirahat, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan EKG dengan beban, serta sarana konfirmasi diagnosis lain untuk deteksi dini Coronary Artery Disease (CAD). Pada penyandang diabetes melitus, rasa nyeri mungkin tidak nyata akibat adanya neruopati yang sering sekali terjadi pada penyandang diabetes melitus.9
           ii.        Kerusakan pembuluh darah perifer
Kerusakan pembuluh darah di perifer atau di tangan dan kaki, yang dinamakan Peripheral Vascular Disease (PVD) sering terjadi pada penyandang diabetes melitus. Komplikasi ini dapat terjadi lebih dini dan prosesnya lebih cepat pada penderita diabetes melitus daripada orang yang tidak menderita diabetes melitus. Denyut pembuluh darah di kaki terasa lemah atau tidak terasa sama sekali. Bila diabetes melitus berlangsung selama 10 tahun lebih, sepertiga pria dan wanita dapat mengalami kelainan ini. Dan apabila ditemukan PVD disamping diikuti gangguan saraf atau neuropati dan infeksi atau luka yang sukar sembuh, pasien biasanya sudah mengalami penyempitan pada pembuluh darah jantung. Biasanya terjadi dengan gejala tipikal claudicatio intermittent, meskipun sering tanpa gejala. Terkadang ulkus iskemik kaki merupakan kelainan yang pertama muncul.1,3
Mengenali dan mengelola berbagai faktor risiko terkait terjadinya kaki diabetes dan ulkus diabetes merupakan hal yang paling penting dalam usaha pencegahan terjadinya masalah kaki diabetes. Adanya perubahan bentuk kaki (callus, kapalan, dll.), neurupati dan adanya penurunan suplai darah ke kaki merupakan hal yang harus selalu dicari dan diperhatikan pada praktik pengelolaan diabetes melitus sehari-hari. Penyuluhan pada para penyandang diabetes melitus mengenai diabetes melitus pada umumnya serta perawatan kaki pada khususnya harus digalakkan.9
          iii.        Kerusakan pembuluh darah otak
Prevalensi komplikasi pembuluh darah otak berupa stroke dengan penyakit diabetes melitus (baik tipe 1 dan 2) berkisar 1.0% s/d 11.3% pada populasi klinik dan 2.8% s/d 12.5% dalam penelitian pada populasi. Lima puluh persen dari prevalensi stroke berkisar 0.5% and 4.3% dengan diabetes melitus tipe 1 dan berkisar 4.1% and 6.7% dengan diabetes melitus tipe 2.3
2.      Mikroangiopati:
i.    Kerusakan mata (Retinopati)
Berbagai kelainan akibat diabetes melitus dapat terjadi pada retina, mulai dari retinopati diabetik non-proliferatif sampai perdarahan retina, kemudian juga ablasio retina dan lebih lanjut lagi dapat mengakibatkan kebutaan. Ada tiga penyakit utama pada mata yang disebabkan oleh diabetes melitus, yaitu: 1) retinopati, retina mendapatkan makanan dari banyak pembuluh darah kapiler yang sangat kecil. Glukosa darah yang tinggi bisa merusak pembuluh darah retina; 2) katarak, lensa yang biasanya jernih bening dan transparan menjadi keruh sehingga menghambat masuknya sinar dan makin diperparah dengan adanya glukosa darah yang tinggi; dan 3) glaukoma, terjadi peningkatan tekanan dalam bola mata sehingga merusak saraf mata. Diagnosis dini retinopati dapat diketahui melalui pemeriksaan retina secara rutin. Kendali glukosa dan tekanan darah yang baik akan mengurangi risiko dan memberatnya retinopati. Terapi aspirin tidak mencegah timbulnya retinopati.1,3,9
ii.   Kerusakan ginjal (Nefropati)
Kelainan yang terjadi pada ginjal penyandang diabetes melitus dimulai dengan adanya mikroalbuminuria, dan kemudian berkembang menjadi proteinuria secara klinis, berlanjut dengan penurunan fungsi laju filtrasi glomerular dan berakhir dengan keadaan gagal ginjal yang memerlukan pengelolan dengan pengobatan substitusi. Pemeriksaan untuk mencari mikroalbuminuria seyogyanya selalu dilakukan pada saat diagnosis diabetes melitus ditegakkan dan setelah itu diulang setiap tahun.9 Semakin lama seseorang terkena diabetes melitus dan makin lama terkena tekanan darah tinggi, maka penderita makin mudah mengalami kerusakan ginjal. Gangguan ginjal pada penderita diabetes melitus juga terkait dengan neuropati atau kerusakan saraf.3 Kendali glukosa dan tekanan darah yang baik akan mengurangi risiko nefropati. Pembatasan asupan protein dalam diet (0,8 g/kgBB) juga akan mengurangi risiko terjadinya nefropati.1
3.      Neuropati
Komplikasi yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer, berupa hilangnya sensasi distal. Hal ini biasanya terjadi setelah glukosa darah terus tinggi, tidak terkontrol dengan baik, dan berlangsung sampai 10 tahun atau lebih. Apabila glukosa darah berhasil diturunkan menjadi normal, terkadang perbaikan saraf bisa terjadi. Namun bila dalam jangka yang lama glukosa darah tidak berhasil diturunkan menjadi normal maka akan melemahkan dan merusak dinding pembuluh darah kapiler yang memberi makan ke saraf sehingga terjadi kerusakan saraf yang disebut neuropati diabetik (diabetic neuropathy). Neuropati diabetik dapat mengakibatkan saraf tidak bisa mengirim atau menghantar pesan-pesan rangsangan impuls saraf, salah kirim atau terlambat kirim. Tergantung dari berat ringannya kerusakan saraf dan saraf mana yang terkena.1,3
Penderita diabetes melitus dengan neuropati perifer berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan amputasi. Gejala yang sering dirasakan kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri, dan lebih terasa sakit di malam hari. Setelah diagnosis diabetes melitus ditegakkan, pada setiap pasien perlu dilakukan skrining untuk mendeteksi adanya polineuropati distal dengan pemeriksaan neurologi sederhana. Adanya keluhan dan kemudian ditegakkannya diagnosis neuropati diabetik mengharuskan kita untuk berusaha mengendalikan konsentrasi glukosa darah sebaik mungkin dan perawatan kaki yang memadai akan menurunkan risiko amputasi. Pengelolaan keluhan neuropati umumnya bersifat simtomatik, dan sering pula hasilnya kurang memuaskan. Pada keadaan neuropati perifer yang disertai rasa sakit, berbagai usaha untuk pencegahan dan pengelolaan diabetes melitus serta berbagai faktor risikonya harus juga dikerjakan. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan duloxetine, antidepresan trisiklik, atau gabapentin. Demikian pula obat berupa obat gosok seperti krim Capsaicin (Capzacin) dapat dipakai pada penyandang diabetes melitus dengan neuropati yang menyakitkan. Semua penyandang diabetes melitus yang disertai neuropati perifer harus diberikan edukasi perawatan kaki untuk mengurangi risiko ulkus kaki. Untuk penatalaksanaan penyulit ini seringkali diperlukan kerja sama dengan bidang/disiplin ilmu lain.1,9
Mengenai komplikasi diabetes melitus bisa juga dibaca di sini.

Referensi:
  1. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2011. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2011.
  2. Suyono, Slamet. Diabetes Melitus di Indonesia. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
  3. Ndraha, Suzanna. 2014. Diabetes Melitus Tipe 2 Dan Tatalaksana Terkini. Medicinus Vol. 27, No. 2, Agustus 2014: 9-16.
  4. Purnamasari, Dyah. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta. hlm 423-434.
  6. Soewondo, Pradana. Ketoasidosis Diabetik. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
  7. Soewondo, Pradana. Koma Hiperosmolar Hiperglikemik Non Ketotik. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
  8. Soemadji, Djoko Wahono. Hipoglikemia Iatrogenik. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.
  9. Waspadji, Sarwono. Komplikasi Kronik Diabetes: Mekanisme Terjadinya, Diagnosis, dan Strategi Pengelolaan. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: InternaPublishing Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.