Jadi Dokter Hidupnya Enak?? Siapa Bilang??

dokter


Sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap bahwa kehidupan semua dokter itu enak, hidup mapan, sejahtera, mewah, dan gambaran kehidupan lain yang serba tercukupi. Padahal sebaliknya, justru hanya sebagian kecil dokter saja yang mempunyai kehidupan seperti itu terutama sebagian besar dokter spesialis. Sebagian besar dokter terutama sebagian besar dokter umum bisa dibilang mempunyai kehidupan yang serba terbatas, harus pandai mengatur pengeluaran untuk keperluan yang memang penting dikarenakan penghasilan yang bisa dibilang kecil.
Jadi dokter mungkin menjadi sebagian besar cita-cita anak kecil, dimana mereka masih polos belum memikirkan mengenai kebutuhan hidup. Mereka yang bercita-cita menjadi dokter berpikiran bisa menolong banyak orang yang sedang sakit. Memang benar dan tidak salah apa yang mereka pikirkan. Namun, ketika seseorang telah menjadi dewasa, setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi diri sendiri dan orang lain yang menjadi tanggung jawabnya. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi tersebut sesorang harus mempunyai penghasilan yang cukup.
Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa profesi dokter mempunyai penghasilan yang besar. Namun, pada kenyataannya sebagian besar dokter terutama sebagian besar dokter umum bisa dibilang mempunyai penghasilan yang kecil. Kenapa saya katakan kecil? Mungkin masyarakat tidak tahu bahwa masih banyak klinik atau rumah sakit yang memberikan upah atau jasa medis kepada dokter yang bekerja di tempat mereka dengan upah atau jasa medis yang sangat kecil. Hal ini bukan berarti dokter mata duitan tetapi lebih kepada penghargaan yang layak atas jasa medis yang harus diterima dokter.
Ada banyak klinik atau rumah sakit yang memberikan upah atau jasa medis kepada dokter pegawai mereka sebesar Rp2000/pasien (dua ribu rupiah per pasien). Padahal, bisa jadi pasien harus membayar ke klinik atau rumah sakit tersebut lebih dari Rp50.000/pasien (lima puluh ribu rupiah per pasien) akan tetapi siapa sangka ternyata upah atau jasa medis yang menjadi bagian dokter hanya Rp2.000/pasien (dua ribu rupiah per pasien), walaupun mungkin di kwitansi pasien tertulis jasa medis dokter Rp50.000/pasien (lima puluh ribu rupiah per pasien). Bisa dibilang upah atau jasa medis yang menjadi bagian dokter sebesar Rp2000/pasien (dua ribu rupiah per pasien) sama atau mungkin malah lebih kecil daripada tarif sekali kencing di toilet umum.
Namun, ada juga klinik atau rumah sakit walapun jumlahnya tidak begitu banyak, memberikan jasa medis kepada dokter mereka dengan jasa medis yang sedikit lebih tinggi, Rp5.000-Rp10.000/pasien (lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah per pasien). Saya tidak menutup mata juga ada klinik atau rumah sakit yang memberikan jasa medis kepada dokter mereka dengan upah atau jasa medis yang layak, akan tetapi jumlah klinik atau rumah sakit yang seperti ini jumlahnya sangat-sangat sedikit.
Walaupun seorang dokter hanya mendapatkan upah atau jasa medis yang sangat kecil, seorang dokter akan tetap berusaha untuk melayani pasien dengan sebaik-baiknya. Namun, walaupun seorang dokter sudah bekerja dengan sebaik-baiknya, begitu ada hal dimana pasien atau keluarganya hanya merasa tidak diuntungkan di klinik atau rumah sakit tempat pasien dirawat. Walaupun penyebabnya bukan karena dokternya, karena penyebabnya memang kondisi klinik atau rumah sakit atau SOP (standar operasional prosedur) semisal, karena memang kondisi kamar rawat inap yang penuh atau karena alat kesehatan yang dimiliki klinik atau rumah sakit tidak lengkap. Demi pertimbangan kebaikan pasien agar segera mendapatkan penganan yang cepat dan tepat sehingga pasien oleh dokter diarahkan untuk segera berobat ke klinik atau rumah sakit lain. Bisa jadi akan muncul headline di beberapa media massa dengan judul “Dokter menolak pasien miskin”. Judul yang sangat tidak sesuai fakta dan sangat merendahkan dan merenggut kehormatan profesi dokter.
Sungguh malang sekali nasib dokter, bekerja sudah dengan sebaik-baiknya dan setiap keputusan dengan pertimbangan hanya untuk kebaikan pasien, walaupun dokter hanya mendapatkan upah atau jasa medis yang kecil, tetapi begitu ada hal dimana pasien atau keluarganyan hanya merasa tidak diuntungkan, niscaya akan menjadi berita bahkan akan menjadi headline di media massa dengan judul yang sangat merendahkan, melecehkan, menghinakan, dan merenggut kehormatan profesi dokter. Walaupun memang demikian realita kehidupan profesi dokter, seorang dokter akan mendapatkan kepuasan ketika bisa melihat pasien yang berobat kepadanya sembuh sehingga pasien tersebut bisa berbahagia menjalani hidup bersama keluarganya.

Tips Diterima Lulus Ujian Seleksi Masuk Kuliah Kedokteran



lulus-ujian-seleksi-masuk-kedokteran-perguruan-tinggi-negeri

Hello kawan, di siang hari yang terik ini tepatnya Senin, 2 November 2015 pukul 12.46 di masjid kampus salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah, aku lagi pengen menulis mengenai lika-liku seleksi masuk kuliah kedokteran yang pernah aku alami. Aku sekarang masih dalam masa menunggu pemberangkatan internsip dokter nih. Aku dulu kuliah di jurusan pendidikan dokter di salah satu perguruan tinggi di provinsi paling timur pulau Jawa di negara tercinta kita ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia atau yang biasa disingkat NKRI. Aku sekarang di masjid kampus salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah karena sedang menunggu istri tercinta yang lagi kuliah S2 jurusan Magister Manajemen konsentrasi pemasaran dengan bahasa yang lebih kerennya Marketing.
Langsung aja ya kawan, apa aja lika-liku dulu yang aku rasakan ketika seleksi masuk kuliah kedokteran. Aku dulu ikut seleksi masuk perguruan tinggi tahun 2009, tentunya nama dan macam tes seleksi masuk perguruan tinggi yang sekarang sudah banyak berbeda daripada zamanku dulu. Aku dulu ikut banyak seleksi masuk perguruan tinggi, yang aku ikuti dulu ada PMDK UNS, aku dulu memilih jurusan pendidikan dokter, hasilnya sih tidak diterima kawan, aku tidak tahu tidak diterima karena nilaiku yang rendah atau karena nilai sekolah SMA dimana aku sekolah dinilai rendah oleh Perguruan Tinggi. Ya aku berhusnudzon saja mungkin karena memang nilaiku sendiri yang rendah.
Selain PMDK UNS, aku juga mengikuti UM UGM, aku memilih yang pertama jurusan Pendidikan Dokter, kedua Teknik Industri, ketiga Teknologi Pertanian. Hasil dari seleksi UM UGM yang aku dapat sama seperti hasil PMDK UNS, alias juga tidak diterima. Kemudian aku juga mengikuti tes tulis di UNY, aku lupa apa nama tesnya dulu, aku dulu memilih jurusan PGSD. Hasil seleksi tes tulisku sama seperti hasil yang aku dapat sebelumnya, alias tidak diterima juga.
Melihat hasil dari tes seleksi masuk perguruan tinggi yang aku ikuti selalu gagal, aku sudah tidak percaya diri lagi kawan. Dari SD, SMP, SMA paling tidak aku selalu mendapatkan peringkat 5 besar di kelas, tetapi ketika mengikuti tes seleksi masuk perguruan tinggi, ternyata aku selalu gagal. Ternyata memang sangat-sangat banyak orang pintar di negeri tercinta kita ini yang belum aku temui meskipun banyak juga teman-temanku di kelas yang lebih pintar daripada aku.
Karena aku sudah tidak percaya diri lagi, dalam menghadapi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), SNMPTN ini di tahun-tahun yang sebelumnya disebut dengan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), aku mendaftar di salah satu perguruan tinggi swasta di Solo jurusan pendidikan Matematika, ya meskipun diterima, hanya sebagai cadangan kawan, sudah membayar juga untuk uang masuknya. Meskipun nanti pada akhirnya aku tarik juga dengan pemotongan biaya masuk sebesar berapa persen gitu, aku lupa besarannya berapa.
Akhirnya untuk persiapan dalam menghadapi SNMPTN, aku mengikuti les di salah satu lembaga bimbingan belajar di Sragen kawan, + 2 bulan aku mengikuti bimbingan belajar tersebut. Oh iya kawan, aku SNMPTN bidang IPA dengan jurusan yang aku pilih antara pilihan pertama dan kedua sama kawan, jurusan Pendidikan Dokter (Kedokteran), bedanya pilihan pertama di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah, pilihan kedua di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Aku memilih pada saat itu entah karena pertimbangan nekat atau karena pertimbangan putus asa, sudah tidak bisa dibedakan lagi kawan. Hahahah.. Karena di satu sisi aku memang nekat, di satu sisi aku juga sudah putus asa.

lulus-ujian-seleksi-masuk-kedokteran-perguruan-tinggi-negeri

Dalam masa-masa menjelang SNMPTN, aku isi dengan persiapan semaksimal mungkin kawan, aku rutin mengikuti les bimbingan belajar dan belajar sendiri di rumah, serta yang paling penting kawan, jangan lupa untuk selalu berdo’a kepada Allah ‘Azza Wa Jalla karena memang tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah ‘Azza Wa Jalla.
Akhirnya hari-H tes ujian SNMPTN tiba kawan. Pada zamanku dulu, seingatku SNMPTN dilaksanakan 2-3 hari. Seingatku juga, hari pertama ada Tes Potensi Akademik (TPA) dan ujian pengetahuan dasar yang berupa Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika Dasar. Seingatku hari kedua atau ketiga ada tes untuk masing-masing bidang, IPA dan IPS. IPA terdiri dari ujian Matematika IPA, Biologi, Kimia, dan Fisika. Untuk ujian SNMPTN bidang IPS, aku kurang tahu kawan karena aku dulu tidak mengikutinya kawan. Maaf kawan..
Selesai ujian SNMPTN, aku benar-benar pasrah kawan, sudah putus asa kawan, merasa tidak akan diterima kuliah di kedokteran kawan. Di antara masa menunggu hasil pengumuman SNPMTN, hanya bisa diisi dengan ibadah dan do’a semaksimal  mungkin kawan, karena memang tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah ‘Azza Wa Jalla.
Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba, saatnya pengumuman hasil SNMPTN. Dengan perasaan putus asa, pasrah, tawakal, dan perasaan lain yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata bercampur menjadi satu. Disertai dengan selalu membaca ayat-ayat suci Al Qur’an dan do’a-do’a yang memuji kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Akhirnya tepat tengah malam, hasil pengumuman SNMPTN bisa diakses. Aku pada saat itu meminta bantuan temanku untuk melihatkan hasil pengumuman SNMPTN milikku dikarenakan pada saat itu aku berada di rumah dimana di daerahku tidak ada warung internet (warnet) yang buka tengah malam. Akhirnya saat-saat temanku memberitahukan hasil pengumuman SNMPTN kepadaku tiba.
Dengan perasaan yang bercampur aduk yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, temanku memberitahukan bahwa hasil pengumuman SNMPTN yang aku dapat adalah diterima di pilihan keduaku, yaitu di jurusan pendidikan dokter di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Dengan perasaan senang dan bahagia yang tidak terukur dan tidak bisa percaya dengan hasil SNMPTN yang telah aku dapat, aku mengucapkan syukur Alhamdulillah kawan karena Allah ‘Azza Wa Jalla telah mengabulkan do’a-do’a yang selalu aku panjatkan kawan dan Allah ‘Azza Wa Jalla memang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dari pengalamanku di atas, ternyata banyak hikmah dan pelajaran yang aku dapat kawan. Pertama, jangan mudah putus asa. Walapun kita sering gagal, ternyata dengan kita tetap berusaha, insyaAllah kita akan mencapai hasil yang kita inginkan. bisa dibilang bahwa gagal adalah langkah awal dari sebuah kesuksesan. Percobaan yang pertama gagal, kita harus melakukan percobaan yang kedua. Percobaan yang kedua gagal, kita harus melakukan percobaan yang ketiga. Begitulah selanjutnya kawan, kita harus selalu mencoba sampai kita berhasil kawan. Salah satu kunci kesuksesan adalah selalu mencoba, tidak putus asa, dan pantang menyerah kawan.

surat-ar-ra'd-ayat-13-Allah-tidak-merubah-keadaan-suatu-kaum

Hikmah dan pelajaran kedua yang aku dapat adalah kita harus selalu menyertai usaha kita dengan do’a-do’a dan tawakal kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Allah ‘Azza Wa Jalla sendiri berfirman dalam kitab-Nya, Al Qur’anul Karim, bahwa Allah ‘Azza Wa Jalla Maha Kuasa atas sesuatu sehingga jika kita selalu dekat dengan Allah ‘Azza Wa Jalla dan sewaktu-waktu kita butuh, kita berdo’a dan bertawakal kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, insyaAllah do’a dan tawakal kita akan mendapatkan hasil yang sepadan.
Masih banyak hikmah dan pelajaran yang bisa didapat dari pengalamanku di atas kawan. Dikarenakan adanya keterbatasan waktu dan masih banyak tugas yang harus aku kerjakan, mungkin cukup sekian tulisan mengenai pengalamanku diterima lulus ujian seleksi masuk kuliah kedokteran. Semoga bermanfaat bagi pembaca semua. Salam sukses kawan!!!

ABOUT US


Kami sebagai penulis sekaligus pemilik blog http://gyjourney.blogspot.co.id/ hanya ini berbagi ilmu, pengetahuan, dan pengalaman yang kami miliki. Kami merupakan dua orang dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Penulis pertama dengan latar belakang lulusan sarjana ilmu komunikasi dari salah satu perguruan tinggi di Surabaya, dimana sekarang sedang melanjutkan pendidikan magister manajemen di salah satu perguruan tinggi di Surakarta. Penulis kedua dengan latar belakang lulusan kedokteran dari salah satu fakultas kedokteran di perguruan tinggi di Malang yang bercita-cita ingin melanjutkan pendidikan dokter spesialis, dimana sekarang penulis kedua masih manjalani program dari pemerintah yang diwajibkan bagi dokter fresh graduate.
Kedua penulis yang sekaligus pemilik blog ini ingin membagi ilmu, pengetahuan, dan pengalaman yang dimiliki kepada pembaca baik yang didapat saat kecil, pendidikan, maupun saat bekerja. Penulis blog ini menulis artikel dari sudut pandang penulis. Jika ada kritik dan saran yang membangun dari pembaca, penulis blog akan sangat terbuka dan mempertimbangkannya jika kritik dan saran disampaikan dengan cara sopan dan santun.

Nyeri Lutut?! Ini Cara Mudah dan Ampuh Mengobatinya!!!

nyeri-lutut-osteoartritis-obat-ampuh
Gambar Sendi Lutut dengan Osteoartritis
Sumber: http://boneandspine.com/wp-content/uploads/2009/07/xray-medial-compartment-osteoarthritis.jpg

      Anda sering mengeluhkan nyeri lutut terutama saat aktivitas berjalan, naik tangga, hendak berdiri setelah duduk, dan berlari, bisa jadi Anda menderita osteoartritis. Osteoartritis merupakan salah satu bentuk radang sendi yang paling sering ditemukan di masyarakat, bersifat kronis, dan mempunyai dampak besar dalam masalah kesehatan individu. Osteoartritis dapat disebabkan oleh hal yang bermacam-macam namun menyebabkan kelainan biologis, morfologis, dan keluhan/gejala yang sama.
        Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif kronik non inflamasi yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Penyakit ini bersifat progresif lambat, ditandai dengan adanya degenerasi tulang rawan sendi, hipertrofi tulang pada tepinya, sklerosis tulang subkondral, perubahan pada membran sinovial, disertai nyeri, biasanya setelah aktivitas berkepanjangan, dan kekakuan, khususnya pada pagi hari atau setelah inaktivitas dengan penyebab yang tidak diketahui.
         Seseorang kemungkinan besar menderita osteoartritis jika mempunyai faktor risiko osteoartritis, yaitu: obesitas, usia lanjut, terapi sulih hormon, merokok, kelemahan otot, aktivitas fisik yang berlebihan atau kurang, pernah cidera sebelumnya, faktor keturunan seperti salah satu/kedua orang tua menderita osteoartritis, dan faktor mekanik. Faktor risiko tersebut mempengaruhi terjadinya kerusakan tulang rawan sendi dan pembentukan tulang yang tidak normal. Usia diatas 65 tahun, sekitar 50% memberikan gambaran radiologis sesuai osteoartritis, meskipun hanya 10% pria dan 18% wanita diantaranya yang memperlihatkan keluhan/gejala osteoartritis. Di indonesia jumlah penderita osteoartritis sendi lutut yang tampak secara gambaran radiologis mencapai 15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita yang berumur antara 40-60 tahun.

          Osteoartritis merupakan penyakit dengan penyebab yang tidak jelas, sehingga istilah faktor risiko (faktor yang meningkatkan risiko penyakit) adalah lebih tepat. Berikut ini pembahasan mengenai faktor-faktor risiko osteoartritis:
• Usia
          Dari semua faktor risiko osteoartritis, faktor usia lanjut adalah faktor yang terkuat. Jumlah penderita dan beratnya osteoartritis semakin meningkat dengan bertambahnya usia. Osteoartritis hampir tidak pernah pada anak-anak, jarang pada umurdi bawah 40 tahun dan sering pada usia di atas 60 tahun. Akan tetapi osteoartritis bukan akibat usia lanjut saja. perubahan tulang 
• Jenis kelamin
      Wanita berrisiko terkena osteoartritis dua kali lipat dibanding pria. Walaupun prevalensi osteoartritis sebelum usia 45 tahun kurang lebih sama pada pria dan wanita, tetapi di atas 50 tahun prevalensi osteoartritis lebih banyak pada wanita, terutama pada sendi lutut. Wanita memiliki lebih banyak sendi yang terlibat dan lebih menunjukkan gejala klinis seperti kekakuan di pagi hari, bengkak pada sendi, dan nyeri di malam hari.
• Ras
        Prevalensi osteoartritis lutut pada penderita di negara Eropa dan Amerika tidak berbeda, sedangkan suatu penelitian membuktikan bahwa ras Afrika-Amerika memiliki risiko menderita osteoartritis lutut 2 kali lebih besar dibandingkan ras Kaukasia. Penduduk Asia juga memiliki risiko menderita osteoartritis lutut lebih tinggi dibandingkan Kaukasia. Suatu studi lain menyimpulkan bahwa populasi kulit berwarna lebih banyak terserang osteoartritis dibandingkan kulit putih.
• Genetik
    Faktor genetik juga berperan pada kejadian osteoartritis lutut. Hal tersebut berhubungan dengan abnormalitas kode genetik untuk sintesis kolagen yang bersifat diturunkan, seperti adanya mutasi pada gen prokolagen II atau gen-gen struktural lain untuk struktur-struktur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat, atau proteoglikan.
• Nutrisi
         Orang yang jarang mengkonsumsi makanan bervitamin D memiliki peningkatan risiko 3 kali lipat menderita osteoartritis lutut. Penelitian faktor nutrisi sebagai etiopatologi osteoartritis membuktikan adanya peningkatan risiko kejadian osteoartritis lutut pada individu dengan defisiensi vitamin C dan E.
• Obesitas
          Kegemukan (obesitas) adalah faktor risiko terkuat untuk terjadinya osteoartritis lutut. Efek obesitas terhadap perkembangan dan progresifitas osteoartritis terutama melalui peningkatan beban pada sendi-sendi penopang berat badan. Tiga hingga enam kali berat badan dibebankan pada sendi lutut pada saat tubuh bertumpu pada satu kaki. Peningkatan berat badan akan melipatgandakan beban sendi lutut saat berjalan.
• Penyakit komorbid
       Faktor metabolik juga berkaitan terhadap timbulnya osteoartritis, selain faktor obesitas. Hal ini didukung dengan adanya kaitan antara osteoartritis dengan beberapa penyakit seperti diabetes mellitus, hipertensi, hiperurisemia, dan penyakit jantung koroner
• Riwayat trauma lutut
           Trauma lutut akut, terutama kerusakan pada ligamentum cruciatum dan robekan meniskus pada lutut merupakan faktor risiko timbulnya osteoartritis lutut, dan berhubungan dengan progresifitas penyakit. Perkembangan dan progresifitas osteoartritis pada individu yang pernah mengalami trauma lutut tidak dapat dicegah, bahkan setelah kerusakan ligamentum cruciatum anterior diperbaiki. Risiko berkembangnya osteoartritis pada kasus ini sebesar 10 kali lipat.
• Aktivitas fisik
           Aktivitas fisik yang berat / weight bearing seperti berdiri lama (2 jam atau lebih setiap hari), berjalan jarak jauh (2 jam atau lebih setiap hari), mengangkat benda berat (10 kg - 50 kg selama 10 kali atau lebih setiap minggu), mendorong objek yang berat (10 kg - 50 kg selama 10 kali atau lebih setiap minggu), naik turun tangga setiap hari merupakan faktor risiko terjadinya osteoartritis lutut

          Hal yang biasanya dikeluhkan oleh penderita osteoartritis yaitu:
- nyeri dirasakan berangsur-angsur
- tidak disertai adanya peradangan (kaku sendi dirasakan < 30 menit)
- nyeri sendi saat aktivitas
- nyeri saat malam hari
- gangguan pada aktivitas sehari-hari
- kemampuan berjalan terganggu

          Pada penderita osteoartritis pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan radiologi x-ray/rongten untuk menentukan klasifikasi diagnosis.

nyeri-lutut-osteoartritis-obat-ampuh
Gambar Sendi Lutut dengan Osteoartritis
Sumber: http://www.physiotherapyforall.com/en/wp-content/uploads/2013/07/artrosi-ginocchia-mal-allineate.jpg
      Pada penderita osteoartritis, dilakukannya pemeriksaan radiografi pada sendi yang terkena sudah cukup untuk memberikan suatu gambaran diagnostik. Gambaran radiografi sendi yang menyokong diagnosis osteoartritis adalah:
a. Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat pada bagian yang menanggung beban seperti lutut).
b. Peningkatan densitas tulang subkondral (sklerosis).
c. Kista pada tulang
d. Osteofit pada pinggir sendi
e. Perubahan struktur anatomi sendi.
    Berdasarkan temuan-temuan radiografis diatas, maka osteoartritis dapat diberikan suatu derajat. Kriteria OA berdasarkan temuan radiografis dikenal sebagai kriteria Kellgren dan Lawrence yang membagi OA dimulai dari tingkat ringan hingga tingkat berat. Perlu diingat bahwa pada awal penyakit, gambaran radiografis sendi masih terlihat normal      

Klasifikasi diagnosis osteoartritis lutut berdasarkan kriteria American College of Rheumatology (ACR)
  • Berdasarkan kriteria klinis:
- Nyeri sendi lutut
   dan
- paling sedikit 3 dari 6 kriteria di bawah ini:
  1. krepitus (bunyi gemeretak) saat gerakan aktif sendi
  2. kaku sendi < 30 menit
  3. umur > 50 tahun
  4. pembesaran tulang sendi lutut
  5. nyeri tekan tepi tulang
  6. tidak teraba hangat pada sinovium sendi lutut
sensitivitas 95% dan spesifisitas 69%
  • Berdasarkan kriteria klinis dan radiologis:
- Nyeri sendi lutut
  dan
  adanya osteofit
  dan
  paling sedikit 1 dari 3 kriteria di bawah ini:
  1. kaku sendi < 30 menit
  2. umur > 50 tahun
  3. krepitus (bunyi gemeretak) saat gerakan aktif sendi
sensitivitas 91% dan spesifisitas 86%
  • Berdasarkan kriteria klinis dan laboratoris:
- Nyeri sendi lutut
  dan
  paling sedikit 5 dari 9 kriteria di bawah ini:
  1. usia > 50 tahun
  2. kaku sendi < 30 menit
  3. Krepitus (bunyi gemeretak) saat gerakan aktif sendi
  4. nyeri tekan tepi tulang
  5. pembesaran tulang
  6. tidak teraba hangat pada sinovium sendi terkena
  7. laju endap darah < 40 mm/jam
  8. reumatoid faktor < 1:40
  9. Analisis cairan sinovium sesuai osteoartritis
sensitivitas 92% dan spesifisitas 75% 


nyeri-lutut-osteoartritis-obat-ampuh
Gambar Sendi Lutut dengan Osteoartritis
Sumber: http://www.ortopedianapoli.it/index/wp-content/uploads/2012/12/g4.jpg

Pengobatan untuk osteoartritis meliputi:

Tahap Pertama

Terapi Non Farmakologi
a. Modifikasi gaya hidup
b. Bila berat badan berlebih (BMI>25), program penurunan berat badan, minimal penurunan 5% dari berat badan, dengan target BMI 18,5-25.
c. Program latihan aerobik
d. Terapi fisik meliputi latihan perbaikan lingkup gerak sendi, penguatan otot-otot (quadrisep/pangkal paha) dan alat bantu gerak sendi: pakai tongkat pada sisi yang sehat.
e. Terapi okupasi meliputi proteksi sendi dan konservasi energi, menggunakan splint dan alat bantu gerak sendi untuk aktivitas fisik sehari-hari.

Tahap Kedua

Tahap Farmakologi: (lebih efektif bila dikombinasi dengan terapi nonfarmakologi di atas)

Pendekatan terapi awal

a. Untuk osteoartritis dengan gejala nyeri ringan hingga sedang, dapat diberikan salah satu obat berikut ini, bila tidak terdapat kontraindikasi pemberian obat tersebut:
• Acetaminophen/paracetamol (kurang dari 4 gram per hari).
• Obat anti inflamasi non-steroid (OAINS).

b. Untuk osteoartritis dengan gejala nyeri ringan hingga sedang, yang memiliki risiko pada sistim pencernaan (usia >60 tahun, disertai penyakit komorbid dengan polifarmaka, riwayat ulkus peptikum, riwayat perdarahan saluran cerna, mengkonsumsi obat kortikosteroid dan atau antikoagulan), dapat diberikan salah satu obat berikut ini:

• Acetaminophen ( kurang dari 4 gram per hari).
• Obat anti inflamasi non-steroid (OAINS) topikal.
• Obat anti inflamasi non-steroid (OAINS) non selektif, dengan pemberian obat pelindung gaster (gastro protective agent).
Obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) harus dimulai dengan dosis analgesik rendah dan dapat dinaikkan hingga dosis maksimal hanya bila dengan dosis rendah respon kurang efektif. Pemberian OAINS lepas bertahap (misalnya Na-Diklofenak SR75 atau SR100) agar dipertimbangkan untuk meningkatkan kenyamanan dan kepatuhan pasien.
Penggunaan misoprostol atau proton pump inhibitor dianjurkan pada penderita yang memiliki faktor risiko kejadian perdarahan sistem gastrointestinal bagian atas atau dengan adanya ulkus saluran pencernaan.
• Cyclooxygenase-2 inhibitor.

c. Untuk nyeri sedang hingga berat, dan disertai pembengkakan sendi,vaspirasi dan tindakan injeksi glukokortikoid intraartikular (misalnya triamsinolone hexatonide 40 mg) untuk penanganan nyeri jangka pendek (satu sampai tiga minggu) dapat diberikan, selain pemberian obat anti-inflamasi nonsteroid per oral (OAINS).


Pendekatan terapi alternatif

Bila dengan terapi awal tidak memberikan respon yang adekuat:
a. Untuk penderita dengan keluhan nyeri sedang hingga berat, dan memiliki kontraindikasi pemberian COX-2 inhibitor spesifik dan OAINS, dapat diberikan Tramadol (200-300 mg dalam dosis terbagi). Manfaatnya dalam pengendalian nyeri OA dengan gejala klinis sedang hingga berat dibatasi adanya efek samping yang harus diwaspadai, seperti: mual (30%), konstipasi (23%), pusing/dizziness (20%), somnolen (18%), dan muntah (13%).
b. Terapi intraartikular seperti pemberian hyaluronan atau kortikosteroid jangka pendek (satu hingga tiga minggu) pada OA lutut.
c. Kombinasi :
Metaanalisis membuktikan: Manfaat kombinasi paracetamol-kodein meningkatkan efektifitas analgesik hingga 5% dibandingkan paracetamol saja, namun efek sampingnya lebih sering terjadi: lebih berdasarkan pengalaman klinis. Bukti-bukti penelitian klinis menunjukkan kombinasi ini efektif untuk non-cancer related pain.

Jika dengan semua terapi di atas, penderita masih mengeluhkan nyeri, alangkah baiknya jika penderita segera memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam yang terdekat untuk mendapatkan pertimbangan terapi yang lebih baik.


Daftar Pustaka:

1. The Indonesian Rheumatism Association. Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis.
2. Yanuarty, M., dan Suntoko, B. 2014. Hubungan antara Faktor Risiko Osteoartritis Lutut dengan Nyeri, Disabilitas, dan Berat Ringannya Osteoartritis. Dissertasi. Fakultas Kedokteran, Unversitas Diponegoro. Semarang.
3. Rifhan, Zanurul. 2011. Hubungan Antara Waist-Hip Ratio dengan Derajat Nyeri Penyakit Osteoartritis Lutut pada Pasien di RSUP. H. Adam Malik. Universitas Sumatera Utara. 
DISCLAIMER!!!




·          Dengan membaca apapun di blog ini, Anda setuju untuk tidak berkomentar negatif atau menyerang pendapat yang dimiliki oleh penulis dan pemilik blog. Saran dan kritik dengan cara yang sopan dan santun akan menjadi pertimbangan bagi penulis dan pemilik blog.
·          Blog ini ditulis berdasarkan cara pandang penulis sebagai seorang dokter dan sekaligus pernah menjadi seorang pasien. Semua yang ditulis pada blog ini bertujuan hanya untuk kepentingan pendidikan pribadi penulis sebagai seorang dokter yang sekaligus menjadi seorang pasien.
·         Jika hendak mengutip dari blog ini, penulis dan pemilik blog ini tidak bertanggung jawab terhadap apa yang dikutip dan apa yang terjadi pada pengutip dari blog ini.
·     Penulis dan pemilik blog ini hanya ingin berbagi ilmu, pengetahuan, dan pengalaman yang dimiliki oleh penulis dan pemilik blog ini. Penulis dan pemilik blog tidak bertanggung jawab atas seluruh komentar yang ditulis oleh pengirim.
·   Penulis dan pemilik blog ini bersedia untuk menghapus pos atau komentar yang melanggar hak kekayaan intelektual dan hak cipta dari konten sesuai dengan permohonan pembaca.
·          Jika pembaca berpendapat terdapat konten, komentar, atau gambar dalam blog ini yang telah melanggar hak kekayaan intelektual maupun hak cipta, pembaca bisa menghubungi penulis dan pemilik blog melalui komentar pada postingan yang dimaksud, konten tersebut akan segera dihapus.